Kamis, 09 Agustus 2012


Optimasi Sistem Usahatani Campuran Pada Anggota Kelompok Tani Catur Amerta Sari di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem

I GEDE JANUARTHA     I WAYAN BUDIASA     M. TH HANDAYANI
Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana

ABSTRACT

            The development of agriculture in this time strived to realize agriculture vision 2025 which aims to sustainable agriculture and can guarantee food resilience and also prosperity of farmer. One of the way to reached the vision is by optimization the integrated farming system that conducted by all farmer, including in Bali, especially in Karangasem Regency. Accordingly, a research is needed on farmer group member of Catur Amerta Sari in Sebudi Village, Selat District, Karangasem Regency.
            This research aims to know the actual earnings, the optimal model, and maximum earnings of integrated farming system which obtained with analysis of optimization toward 28 farmer group member of Catur Amerta Sari. Integrated farming system that conducted by responder is chili, tomato, gumitir flower, cabbage, and cattle rearing. Data type that used is data qualitative and quantitative, while data collected used field study and bibliography study method. Data processed with Gross Margin analysis and Linear Programming.
            Result of Gross Margin analysis indicate that highest earnings obtained by tomato in Cropping Season 1, the lowest earning obtained by cabbage Cropping Season of MT 2, while the actual gross margin is Rp 34,346,985.12. Based on result of optimization using the program of BLPX88, maximum earnings that can be obtained is equal to Rp 35,166,200.00 with the average 0.444 ha of the land cultivated per years by planting chili in Cropping Season 1, Cropping Season 2, Cropping Season 3; tomato in Cropping Season 1, Cropping Season 2, Cropping Season 3, gumitir flower in Cropping Season 1, Cropping Season 2, Cropping Season 3, cabbage in Cropping Season 2, and cattle rearing yearly.
            Respondents suggested that to apply optimal integrated farming system as according to result of analysis of optimization so that the farmers get maximum results. Besides, the respondents suggested not to rent labors because the labors in family still available.

Key words:      optimalization, diversified farm enterprise system, gross margin,               linear programming.

INTISARI

            Pembangunan pertanian saat ini diupayakan untuk mewujudkan visi pertanian 2025 yang intinya bertujuan untuk pertanian berkelanjutan dan mampu menjamin ketahanan pangan serta kesejahteraan petani. Salah satu cara mencapai visi tersebut adalah dengan mengoptimalkan sistem usahatani campuran yang dilakukan oleh para petani, termasuk para petani di Bali, khususnya di Kabupaten Karangasem. Upaya optimasi pada lahan pertanian yang menerapkan sistem usahatani campuran tersebut mendorong dilakukannya penelitian di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem.
            Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan aktual usahatani, model optimal usahatani, serta pendapatan maksimum yang diperoleh dengan analisis optimasi pada 28 anggota Kelompok Tani Catur Amerta Sari. Usahatani yang dilakukan oleh responden yaitu usahatani cabai, tomat, bunga gumitir, kubis, dan usaha penggemukan sapi. Jenis data yang digunakan berupa data kualitatif dan kuantitatif, sedangkan pengumpulan data menggunakan metode studi lapangan dan studi kepustakaan. Data diolah dengan analisis Gross Margin dan Linear Programming.
            Hasil analisis Gross Margin menunjukkan bahwa pendapatan tertinggi diperoleh oleh usahatani tomat MT 1, yang terendah diperoleh oleh usahatani kubis MT 2 sedangkan gross margin aktual yang diperoleh sebesar Rp 34.346.985,12. Berdasarkan hasil optimasi dengan bantuan program BLPX88, pendapatan maksimum yang diperoleh adalah sebesar Rp 35.166.200,00 pada rata-rata luas garapan 0,444 ha dengan menanam usahatani cabai MT 1, cabai MT 2, cabai MT 3, tomat MT 1, tomat MT 2, tomat MT 3, bunga gumitir MT 1, bunga gumitir MT 2, bunga gumitir MT 3, kubis MT 2, dan usaha penggemukan sapi.
            Responden disarankan agar menerapkan usahatani optimal sesuai dengan hasil analisis optimasi sehingga mendapatkan hasil yang maksimum. Selain itu, disarankan untuk tidak menyewa tenaga kerja sebab tenaga kerja dalam keluarga masih tersedia banyak.

Kata kunci:      optimalisasi, sistem usahatani campuran, gross margin, linear programming.

1.        PENDAHULUAN

       Pertanian merupakan salah satu mata pencaharian utama penduduk Indonesia selain sektor lain seperti industri, jasa, perdagangan, dan sebagainya. Sektor pertanian juga menyumbangkan devisa terhadap PDB Indonesia, walaupun jumlahnya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan sektor lain yang dominan seperti migas, perdagangan, dan pariwisata. Laju pertumbuhan PDB Indonesia dari tahun 2007 sampai 2009 paling besar dipengaruhi oleh sektor Migas dan Komunikasi.  Pada tahun 2007, Migas dan Komunikasi masing-masing memberi 10,3 persen dan 14 persen, sedangkan sektor pertanian hanya menyumbang sebesar 3,47 persen.  Pertumbuhan sektor pertanian Indonesia sangat kecil pada tahun berikutnya terhadap PDB yakni sebesar 4,83 persen pada tahun 2008 dan 4,13 persen pada tahun 2009 (Badan Pusat Statistik.a,2010).
       Adapun kondisi pertanian Indonesia saat ini yaitu: (1) jumlah petani sekitar 45% dari tenaga kerja total, (2) rata-rata lahan yang digunakan 0,34 ha dengan tekanan laju alih fungsi lahan produktif 187.789 ha per tahun, (3) 50-60 % pendapatannya dialokasikan untuk konsumsi pangan, (4) 77% petani saat ini maksimum tamat SD dan (4) petani tergantung terhadap benih, teknologi, modal, perdagangan internasional dan kelemahan akses terhadap sumber daya (Sopandie dan Munandar dalam Budiasa, 2011). Melihat dari kondisi tersebut maka pemerintah Indonesia menetapkan sebuah visi pertanian 2025 yaitu ”Terwujudnya Sistem Pertanian Industrial Berkelanjutan yang Berdaya Saing dan Mampu Menjamin Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani”.
       Salah satu cara mencapai visi tersebut adalah dengan menerapkan sebuah metode sistem pertanian yang berkelanjutan dan mampu diterapkan oleh masyarakat. Di antara sekian sistem pertanian yang ada di Indonesia saat ini, salah satu sistem yang banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia adalah sistem usahatani campuran dimana sistem tersebut mengintegrasikan antara tanaman usahatani dengan hewan ternak petani.
       Kelompok tani di Bali yang masih aktif dalam menerapakan sistem usahatani campuran antara lain yaitu Kelompok Tani Catur Amerta Sari yang ada di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem. Kelompok tani ini mengusahakan lima jenis usahatani yaitu usahatani cabai, usahatani tomat, usahatani kubis, dan usahatani penggemukan sapi.
       Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapatan aktual usahatani responden dan untuk mengetahui model optimal cabang usahatani yang memberikan pendapatan maksimum dalam kelompok tani tersebut.

2.        METODOLOGI PENELITIAN

       Lokasi penelitian ini dipilih secara purposive dengan pertimbangan bahwa Kelompok Tani Catur Amerta Sari yang ada di Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem merupakan kelompok tani yang melakukan usahatani campuran. Penelitian ini mulai dilaksanakan dari 15 November 2011 sampai dengan 20 Desember 2011.
       Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Sedangkan sumber datanya adalah data primer yang diperoleh langsung dari responden dan data sekunder yang diperoleh dari literatur-literatur yang terkait dengan penelitian. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Pemilihan responden dalam penelitian ini menggunakan metode sensus, dimana jumlahnya yaitu 28 orang dan merupakan anggota dari Kelompok Tani Catur Amerta Sari.
       Untuk analisis pendapatan aktual, digunakan metode analisis gross margin. Analisis pendapatan dihitung dengan rumus:
GM = TR – VC
Keterangan:
GM                = Gross margin (Rp)
TR                 = Total Penerimaan (Rp)
VC                 = Biaya Variabel (Rp)
       Sedangkan untuk model optimal dan pendapatan maksimum dianalisis menggunakan metode Program Linier dengan bantuan program BLPX88. Adapun rumusnya yaitu:
Maksimumkan      Gross   Margin: Z = C1X1 + C2X2 + … + CnXn
dengan kendala:
a11X1 + a12X2 + … + a1nXn ≤ Luas Lahan
a21X1 + a22X2 + … + a2nXn ≤ maksimum lahan pada cabang usahatani
a31X1 + a32X2 + … + a3nXn ≤ Jumlah Tenaga kerja    
a41X1 + a42X2 + … + a4nXn ≤ maksimum Tenaga kerja yang disewa
a51X1 + a52X2 + … + a5nXn ≤ Jumlah persediaan Input
a61X1 + a62X2 + … + a6nXn ≤ Jumlah persediaan Output
a71X1 + a72X2 + … + a7nXn ≤ Modal Masuk
a81X1 + a82X2 + … + a8nXn ≤ Modal Keluar
X1, X2, …, Xn ≥ 0

Keterangan:
Z    = Pendapatan Maksimum Usahatani Campuran (Rp)
Cn  = Koefisien fungsi objektif atau koefisien harga
Xn  = Variabel keputusan pemrograman Linear atau cabang usaha tani
aij   = koefisien fungsi kendala atau input

       Model LP tersebut kemudian divalidasi dengan formula statistika (nilai alfa (α) 5%) untuk menilai kesesuaian hasil optimum model dengan kondisi sebenarnya. Adapun rumus untuk menghitung validasi ini adalah:
IC=
Keterangan:
IC                  = nilai rentang validasi.
                 = nilai Rata-rata penelitian
  = nilai t tabel dengan α/2 dan df= n-1
s                     = standar deviasi peneltian
n                    = jumlah sampel penelitian


3.        HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.  Pendapatan Aktual Usahatani
       Pendapatan aktual usahatani merupakan akumulasi dari seluruh aktivitas selama setahun. Pendapatan ini merupakan hasil perhitungan rata-rata seluruh anggota Kelompok Tani Catur Amerta Sari. Perhitungan pendapatan ini menggunakan metode gross margin. Hasil dari masing-masing usahatani dapat dilihat pada Tabel 1.



Tabel 1. Rata-rata Gross Margin Masing-Masing Usahatani Campuran.
No
Jenis Usahatani
Rata-rata
Luas Garapan (ha)
Penerimaan Usahatani (Rp)
Variabel Usahatani (Rp)
 Gross Margin Usahatani (Rp)
1
Cabai MT 1
0,132
5.642.100,00
2.197.196,43
3.444.903,57
2
Tomat MT 1
0,082
5.759.375,00
1.506.125,00
4.253.250,00
3
Bunga Gumitir MT 1
0,165
4.205.428,57
1.645.360,71
2.560.067,86
4
Cabai MT 2
0,107
4.673.350,00
1.818.732,14
2.854.617,86
5
Kubis MT 2
0,092
3.762.187,50
1.352.760,71
2.409.426,79
6
Tomat MT 2
0,068
4.676.785,71
1.250.910,71
3.425.875,00
7
Bunga Gumitir MT 2
0,161
4.362.571,43
1.726.717,86
2.635.853,57
8
Cabai MT 3
0,129
5.501.439,29
2.132.653,57
3.368.785,71
9
Tomat MT 3
0,073
5.300.000,00
1.386.232,14
3.913.767,86
10
Bunga Gumitir MT 3
0,161
4.436.857,14
1.722.789,29
2.714.067,86
11
Penggemukan Sapi (ekor)
1
12.111.011,90
9.344.642,86
2.766.369,05
Jumlah
1,171
60.431.106,55
26.084.121,43
34.346.985,12

            Berdasarkan hasil analisis Gross Margin, usahatani Kelompok Tani Catur Amerta Sari ini memperoleh pendapatan terbesar untuk Tomat MT 1 dengan rata-rata gross margin sebesar Rp 4.253.250,00; rata-rata penerimaan sebesar Rp 5.759.375,00; dan rata-rata biaya sebesar Rp 1.506.125,00.  Pendapatan terendah usahatani terletak pada usahatani Kubis yaitu sebesar Rp 2.409.426,79 dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp 3.762.187,50 dan rata-rata biaya sebesar Rp 1.352.760,71.
            Untuk komoditi cabai, gross margin terbesar terletak pada usahatani cabai MT 1 dan yang terkecil pada cabai MT 2. Pada cabai MT 2, gross margin yang didapat lebih kecil dibanding musim lainnya dikarenakan luas lahan garapan yang diusahakan lebih sempit dibanding lainnya. Begitu pula untuk komoditi tomat dimana tomat MT 1 lebih banyak memperoleh gross margin dibanding tomat MT 2 dan 3 karena faktor lahan tomat MT 1 lebih luas dibanding yang lain.
            Komoditi kubis memperoleh pendapatan terendah dan hanya ditanam pada MT 2. Penanaman ini hanya pada MT 2 karena saat itu musim kemarau sehingga kubis yang ditanam lebih sedikit yang membusuk dibanding bila ditanam di musim lainnya. Sedangkan bunga gumitir berbanding terbalik dengan hasil komoditi lain. Pada komoditi bunga gumitir, walaupun lahan yang diusahakan pada MT 2 dan 3 lebih kecil daripada MT 1, akan tetapi hasil gross margin yang didapat lebih besar dibanding MT 1. Hal ini dikarenakan produksi yang didapat lebih besar  atau harga komoditi yang meningkat pada MT 2 dan MT 3 daripada MT 1.
            Usahatani penggemukan sapi selama ± 1 tahun memperoleh rata-rata gross margin sebesar Rp 2.766.369,05 dengan rata-rata penerimaan sebesar Rp 12.111.011,90 dan rata-rata biaya sebesar Rp 9.344.642,86. Penerimaan yang didapat terlihat cukup tinggi dikarenakan hasil penjualan sapi yang dipelihara dari tahun sebelumnya tetapi dijual tahun 2011 juga dihitung. Begitu pula dengan biaya yang dikeluarkan juga dihitung untuk sapi tahun sebelumnya tetapi dijual pada tahun 2011.

3.2.       Pendapatan Maksimum dengan Model Optimal Usahatani
            Untuk mendapatkan pendapatan maksimum ini, digunakan analisis program linier dengan bantuan program BLPX88. Jumlah kendala dalam kelompok tani ini yaitu 92 kendala dengan jumlah aktivitas selama setahun yaitu 79 aktivitas. Berdasarkan hasil analisis optimasi Linear Programming, didapat empat hasil utama yaitu Primal Problem Solution, Dual Problem Solution, Objective Row Ranges, dan Right Hand Side Range.
            Primal Problem Solution menunjukkan bahwa semua aktivitas usahatani berstatus basis (menguntungkan), kecuali aktivitas menyewa tenaga kerja. Sewa tenaga kerja tidak disarankan karena ketersediaan tenaga kerja dalam keluarga masih banyak. Transfer kas dari MT-1 ke MT-2, dari MT-2 ke MT-3, dan MT-3 ke Z semua berstatus basis. Artinya, hasil aktivitas berupa gross margin pada MT-1 ditransfer untuk membiayai aktivitas MT-2, dan hasil aktivitas pada MT-2 ditransfer ke MT-3, dan akhirnya hasil aktivitas pada MT-3 ditransfer ke fungsi tujuan sebagai akumulasi gross margin dari berbagai aktivitas selama setahun. Dari hasil ini, dapat dianggap bahwa para petani mampu dalam membiayai usahatani mereka tanpa harus meminjam modal untuk usahatani dengan pola tanam dan jenis komoditi tersebut.
            Berdasarkan Dual Problem Solution, semua kendala lahan, baik lahan secara keseluruhan maupun kendala lahan per jenis usahatani habis terpakai (binding), kecuali kendala lahan bunga gumitir MT 1. Lahan bunga gumitir pada  MT-1 berstatus nonbinding. Hal ini dikarenakan nilai penggunaan lahannya sebesar 0,137 ha padahal lahan yang tersedia sebesar 0,165 ha sehingga menyisakan lahan sebesar 0,028 ha. Artinya, kemungkinan beberapa sumberdaya (tenaga kerja dan modal) pada usaha bunga gumitir MT 1 dapat dialihkan untuk usahatani lain yang lebih kompetitif. Kendala Tenaga kerja juga berstatus non basis yang artinya tidak diperlukan aktivitas menyewa karena stok TKDK (51 HOK) masih tersedia.
            Pada Objective Row Range, semua jenis usahatani menunjukkan status basis (menguntungkan). Selama penerimaan tidak kurang dari batas minimumnya, maka peneyelesaian optimal tidak akan berubah. Khusus untuk produksi bunga gumitir MT1, dengan keterbatasan lahan sebesar 0,137 ha, dengan penerimaan tidak kurang dari -Rp 10.575.000,00 dan tidak lebih dari Rp 2.217.000,00 maka penyelesaian optimal tidak akan berubah.
            Pada Right Hand Side Ranges untuk lahan berstatus binding (habis terpakai) dengan tingkat minimum 0,307 ha dan tingkat maksimum 0,472 ha. Hal ini berarti sepanjang lahan berada di antara 0,307 ha sampai dengan 0,472 ha, maka kondisi optimal tidak akan berubah.

            Dari hasil analisis tersebut, hasil maksimum yang didapat oleh responden adalah sebesar Rp 35.166.200,00 dengan menjalankan usahatani cabai MT 1, cabai MT 2, cabai MT 3, tomat MT 1, tomat MT 2, tomat MT 3, bunga gumitir MT 1, bunga gumitir MT 2, bunga gumitir MT 3, kubis MT 2, dan usaha penggemukan sapi. Hasil ini berbeda dengan gross margin real yang ada yaitu sebesar Rp 34.346.985,12.

4.        KESIMPULAN dan SARAN

            Dari hasil analisis sistem usahatani seluas 0,444 ha pada Kelompok Tani Catur Amerta Sari, diperoleh pendapatan aktual usahatani sebesar Rp 34.346.985,12 per tahun sedangkan menurut hasil pemrograman linier menggunakan BLPX88 didapat pendapatan maksimum sebesar Rp 35.166.200,00. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa usahatani yang dilakukan sudah optimal dengan menjalankan usahatani cabai MT 1, cabai MT 2, cabai MT 3, tomat MT 1, tomat MT 2, tomat MT 3, bunga gumitir MT 1, bunga gumitir MT 2, bunga gumitir MT 3, kubis MT 2, dan usaha penggemukan sapi.
            Saran yang dapat diberikan kepada responden adalah responden disarankan agar menerapkan usahatani optimal sesuai dengan hasil analisis optimasi sehingga mendapatkan hasil yang maksimum. Selain itu, disarankan untuk tidak menyewa tenaga kerja sebab tenaga kerja dalam keluarga masih tersedia banyak.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2007. Profil Pembangunan Desa Sebudi. Karangasem.
Antara, I Made. 2010. Bahan Ajar Metodologi Penelitian Sosek. Prodi Agribisnis UNUD: Denpasar.
Badan Pusat Statistik.a. 2010. Data Strategis BPS. Jakarta. Badan Pusat Statistik.
­                                   .b. 2010. Statistik Indonesia 2010. Jakarta. Badan Pusat
Statistik.
Budiasa, I Wayan. 2011. Materi Usulan Penelitian Strategis Nasional. “Pengembangan dan Optimasi Teknologi Produksi Pangan Sistem Usahatani Terintegrasi (SIMANTRI) untuk Pertanian Berkelanjutan: Pendekatan Linear Programming. UNUD: Denpasar.
Budiasa, I. W., I. G. A. A. Ambarawati, dan I. A. P. Dewi. Optimasi Sistem Usahatani Terintegrasi: Analisis Pemrograman Linier. SOCA Agribisnis Edisi Juli 2011. Universitas Udayana. Denpasar.
Dewi, I.A. Puspita. 2010. Optimasi Sistem Usahatani Campuran pada Kelompok Ternak Purna Gopala Desa Tegal Tugu, Kecamatan Gianyar, Kabupaten Gianyar. Skripsi tidak dipublikasikan. Prodi Agribisnis. FP UNUD. Denpasar.
Dillon, H.S. 1999. Pertanian Membangun Bangsa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali. 2011. Membangun Desa secara Berkelanjutan dengan SIMANTRI (Sistem Pertanian Terintergrasi). Denpasar.
Direktorat Pengelolaan Lahan Departemen Pertanian. 2007. Pedoman Teknis Optimasi Lahan. Jakarta.
Heady, Earl O. dan Wilfred Candler. 1964. Linear Programming Methods. USA: The Iowa State University Press.
Ilham, Muhammad. 2008. Analisis Efisiensi Usahatani Lada di Desa Mataiwoi Kecamatan Landono Kabupaten Konawe Selatan. Selami IPS Edisi Nomor 23 Volume I Tahun XIII April 2008.
Nainggolan, Kaman. 2005. Pertanian Indonesia Kini dan Esok. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Salikin, Karwan A. 2011. Sistem Pertanian Berkelanjutan. Cetakan keenam. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Soetrisno, Loekman. 2006. Paradigma Baru Pembangunan Pertanian. Cetakan kelima. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Suamba, Ketut. 2006. Bahan Ajar Manajemen Produksi dan Operasi Agribisnis. Denpasar: Program Magister Agribisnis Unud.
Van den Ban, A. W. Dan H.S. Hawkin. 1999. Penyuluhan Pertanian. Yogyakarta: Kanisius.
West, Richard dan Lyan H. Turner. 2008. Pengantar Teori Komunikasi. Analisis dan Aplikasi. Jakarta: Salemba Humanika.

Rabu, 08 Agustus 2012


SISTEM INFORMASI MANAJEMEN

1.      PENGERTIAN SISTEM
Davis (1974 : 43) mendefenisikan sistem masalah sebagai totalitas himpunan benda-benda atau bagian-bagian yang satu sama lain berhubungan sedemikian rupa sehingga menjadi satu kesatuan yang terpadu untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sistem adalah suatu rangkaian yang terdiri dari subsistem-subsistem dimana diantaranya terdapat keterkaitan dan adanya tujuan yang ingin dicapai.

2.      PENGERTIAN INFORMASI
Pengertian informasi adalah suatu kesatuan pernyataan pandangan, fakta, konsep atau ide, yang berhubungan erat dengan pengetahuan, yang mana apabila informasi tersebut diasimilasikan, dikorelasikan dan dimengerti akan menjadi suatu pengetahuan. Informasi dapat berupa : pengetahuan baru; teori; prinsip; ide; teknologi baru, desain baru; produk baru; proses; prototif; penyempurnaan; metode (Davis, 1974: 73).
Menurut Stephen A. Moscove, informasi adalah kenyataan atau bentuk-bentuk berguna yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bisnis.
Informasi adalah hasil pemrosesan data yang diperoleh dari setiap elemen sistem tersebut menjadi bentuk yang mudah dipahami dan merupakan pengetahuan yang relevan yang dibutuhkan oleh orang untu menambah pemahamannya terhadap fakta-fakta yang ada.
Secara umum, informasi terdiri dari:
1.      Data yang diolah.
2.      Perubahan data mentah menjadi data yang lebih berguna dan berarti.
3.      Menggambarkan kesatuan nyata dan kejadian-kejadian.
4.      Digunakan dalam pengambilan keputusan.

3.      PENGERTIAN SISTEM INFORMASI
Sistem informasi adalah suatu sistem formal mengenai hal melaporkan, menggolongkan dan menyebarkan informasi kepada orang-orang yang tepat. (Moekizat, 1986 : 64).
Murdick (1971 : 24) menyatakan, bahwa sitem informasi adalah proses komunikasi, dimana informasi masukan (input) direkam, disimpan dan diperoleh kembali (diproses) bagi keputusan.

4.      PENGERTIAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN (SIM)
    Sistem Informasi Manajeman merupakan penerapan sistem informasi di dalam organisasi untuk mendukung informasi-informasi yang dibutuhkan oleh semua tingkat manajeman.
Abdul Kadir, 2002, mendefinisikan sistem informasi manajemen (SIM) adalah sistem informasi yang digunakan untuk menyajikan informasi yang digunakan untuk mendukung operasi, manajemen, dan pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi.
Menurut George M.Scott, Sistem Informasi Manajeman adalah kumpulan dari interaksi – interaksi sistem-sistem informasi yang menyediakan informasi baik kebutuhan manajerial maupun kebutuhan operasi.
Menurut Barry E. Cushing, SIM adalah kumpulan dari manusia dan sumber-sumber daya modal di dalam suatu organisasi yang bertanggung jawab mengumpulkan dan mengolah data untuk menghasilkan informasi yang berguna untuk semua tingkatan manajeman di dalam kegiatan perencanaan dan pengendalian.
Menurut Gordon. B. Davis, SIM adalah manusia/mesin yang menyediakan informasi untuk mendukung operasi, manajeman dan fungsi pengambilan keputusan dari suatu organisasi.
Dari beberapa definisi tersebut, dapat dirangkum bahwa SIM adalah
1.      Kumpulan dari interaksi sistem-sistem informasi
2.      Menghasilkan informasi yang berguna untuk semua tingkatan manajeman.
Secara teori, komputer tidak harus digunakan dalam SIM, tetapi kenyataannya tidaklah mungkin SIM yang kompleks dapat berfungsi tanpa melibatkan elemen nonkomputer dan elemen komputer. Dari definisi yang diberikan oleh Gordon B. Davis elemen non komputer adalah sistem manusia dan elemen komputer adalah sistem mesin.Lebih lanjut Gordon B. Davis juga menegaskan SIM selalu berhubungan dengan pengolahan informasi yang berbasisi komputer.

5.      PERANAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN SECARA UMUM
Menurut Suwardi Lubis, Sistem informasi manajemen sangat berperan untuk menterpadukan semua unsur-unsur dan saling berhubungan sehingga sistem informasi tersebut harus dipandang sebagai suatu sistem tunggal, akan tetapi cukup kompleks sehingga perlu diuraikan menjadi subsistem-subsistem untuk perencanaan dan pengendalian pengembangannya serta untuk mengendalikan operasinya. Hakikat proyek sistem terhadap pengendalian proyek pada umumnya tepat.
Berdasarkan tulisan dalam PERANAN SISTEM INFORMASI DAN PERENCANAAN SISTEM INFORMASI DALAM ORGANISASI: SUATU STUDI EMPIRIS, Manajemen dan akademisi memandang sistem informasi (SI) dari peran pendukung ke peran stratejik.  Penelitian dalam bidang SI menunjukkan bahwa organisasi mempunyai peranan yang berbeda-beda untuk SI dalam operasinya dan bahwa berbagai aspek perencanaan stratejik SI akan sangat bergantung pada peranan SI.  Penelitian ini secara empiris mengevaluasi perbedaan karakteristik dalam perencanaan, dukungan organisasional, dan kinerja dari perencanaan SI antara organisasi dengan peranan yang berbeda-beda untuk SI.
Pada intinya, sistem informasi manajeman (SIM) beperan dalam memberikan informasi ke semua tingkatan manajeman, yaitu manajeman tingkat bawah (lower level manajement), manajeman tingkat menengah (middle level management), dan manajeman tingkat atas (top level manajement)

6.      KARAKTERISTIK SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Suatu sistem informasi manajemen mempunyai karakteristik atau sifat tertentu, yaitu mempunyai :
1.      Komponen.(Components)
Terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, dan bekerjasama membentuk satu kesatuan.
2.      Batas Sistem.(Boundary)
Merupakan daerah yang membatasi antara sistem dengan sistem lainnya atau dengan lingkungan luarnya.
3.      Lingkungan Luar Sistem.(Environments)
Adalah apapun diluar batas dari sistem yang mempengaruhi
operasi sistem.
4.      Penghubung.(Interface)
Merupakan media penghubung antara subsistem, yang memungkinkan sumber-sumber daya mengalir dari satu subsistem ke subsistem lainnya.
5.      Masukkan.(Input)
Adalah energi yang dimasukkan kedalam sistem, yang dapat berupa masukkan perawatan(Maintenance input) dan masukkan signal(signal input).
6.      Keluaran.(Output)
Adalah hasil dari energi yang diolah dan diklasifikasikan menjadi keluaran yang berguna dan sisa pembuangan.
7.      Pengolah.(process)
Suatu sistem dapat mempunyai suatu bagian pengolah yang akan merubah masukkan menjadi keluaran.
8.      Sasaran.(Objective)
Suatu sistem pasti mempunyai tujuan (goal) atau sasaran (objective).

Berdasarkan tulisan dalam Sistem Informasi.Wordpress.com, karakteristik Sistem Informasi Manajemen adalah:
1.    Sistem informasi memiliki komponen berupa subsistem yang merupakan elemen elemen yang lebih kecil  yang membentuk sistem informasi tersebut misalnya bagian input, proses, output.
Contoh bagian input adalah salesman memasukkan data penjualan bulan ini. maka di sana terdapat manusia yang melakukan pekerjaan input, dengan menggunakan hardware  keyboard, dan menggunakan interface sebuah aplikasi laporan  penjualan  yang sudah di sediakan oleh sistem informasi tersebut.
2.  Ruang lingkup sistem informasi yaitu ruang lingkup yang ditentukan dari awal pembuatan yang merupakan garis batas lingkup kerja sistem tersebut, sehingga sistem informasi tersebut tidak bersinggungan dengan sistem informasi lainnya.
3.   Tujuan sistem informasi adalah hal pokok yang harus ditentukan dan dicapai dengan menggunakan sistem informasi tersebut, sebuah sistem informasi berhasil apabila dapat mencapai tujuan tersebut.
4.    Lingkungan sistem informasi yaitu sesuatu yang berada diluar ruang lingkup sistem informasi yang dapat mempengaruhi sistem informasi, hal ini turut dipertimbangkan pada saat perencanaan sistem informasi.   

DAFTAR PUSTAKA